***SELAMAT DATANG DI WEBSITE QUHAS SCHOOL YPT DAR AL-MASALEH JAMBI***
Latest Post


Khutbah Jumat Masjid Fathurrahman Kenali Besar Jambi:

“MENCEGAH KARHUTLA: AMANAH MENJAGA BUMI DAN LARANGAN MEMBUAT KERUSAKAN”.

Ust Dr KH Hasbullah Ahmad, MA


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَمَرَنَا بِالْإِصْلَاحِ فِي الْأَرْضِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفَسَادِ فِيهَا، وَجَعَلَنَا خُلَفَاءَ فِيهَا لِنَعْمُرَهَا بِالْخَيْرِ وَالطَّاعَةِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Ma’asyiral muslimin Hadakumullah,

Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan sebenar-benar takwa, melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita bersyukur atas nikmat iman, Islam, kesehatan, udara yang kita hirup, air yang kita minum, serta bumi yang Allah hamparkan sebagai tempat kehidupan kita.

Pada kesempatan yang mulia ini, khatib mengajak diri khatib sendiri dan seluruh jamaah untuk merenungkan satu persoalan penting: mencegah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla sebagai bagian dari amanah menjaga bumi yang Allah titipkan kepada manusia.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di negeri yang dianugerahi hutan, sungai, tanah yang subur, serta kekayaan alam yang luar biasa. Namun, ketika hutan dan lahan terbakar, yang hilang bukan sekadar pepohonan. Api dapat mengancam kehidupan manusia, membunuh satwa, merusak ekosistem, mengganggu pendidikan dan pekerjaan, serta menyebabkan asap yang membahayakan masyarakat.

Karhutla dapat terjadi karena berbagai faktor. Akan tetapi, kebakaran yang timbul akibat kesengajaan, kelalaian, atau pembukaan lahan dengan api tanpa pengendalian yang memadai merupakan persoalan yang harus kita cegah bersama.

Islam mengajarkan bahwa bumi bukan milik manusia untuk dirusak sesuka hati. Bumi adalah amanah yang harus dikelola dengan tanggung jawab.

Ma’asyiral muslimin As’adakumullah,

Larangan membuat kerusakan di muka bumi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

 “Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A’raf: 56)

Ayat ini memberikan pedoman yang jelas: kita dilarang membuat kerusakan di bumi setelah Allah menciptakannya dalam keadaan yang memungkinkan kehidupan berlangsung.

Ketika seseorang dengan sengaja membakar hutan, merusak lahan, atau membiarkan api menjalar karena kelalaiannya, sehingga menimbulkan kerusakan dan membahayakan orang lain, maka perbuatan tersebut bertentangan dengan prinsip Islam dalam menjaga kemaslahatan.

Jangan sampai kita mengejar keuntungan sesaat, tetapi masyarakat menanggung kerugian yang berkepanjangan. Jangan sampai lahan dibuka dengan cara yang merusak, sementara anak-anak kita harus menghirup asap, petani kehilangan sumber penghidupan, dan satwa kehilangan habitatnya.

Ma’asyiral muslimin Hadakumullah,

Manusia diberi amanah untuk memakmurkan bumi, bukan menghancurkannya. Allah SWT berfirman:

هُوَ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا فَاسْتَغْفِرُوهُ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ ۚ إِنَّ رَبِّي قَرِيبٌ مُجِيبٌ

“Dia telah menciptakan kamu dari bumi dan menjadikan kamu pemakmurnya. Oleh karena itu, mohonlah ampunan kepada-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku sangat dekat dan memperkenankan doa.” (QS. Hud: 61)

Ayat ini menjelaskan tugas manusia untuk memakmurkan bumi. Kita diperintahkan mengelola sumber daya alam dengan baik, menghasilkan manfaat, dan menjaga keberlanjutan kehidupan.

Menjaga hutan berarti menjaga sumber air. Menjaga lahan berarti menjaga kehidupan. Mencegah kebakaran berarti melindungi manusia dan makhluk Allah lainnya.

Karena itu, ukuran keberhasilan kita bukan hanya berapa luas lahan yang dapat dibuka atau berapa besar keuntungan yang diperoleh, melainkan juga apakah pengelolaan tersebut membawa manfaat tanpa menimbulkan kerusakan dan bahaya bagi masyarakat.

Ma’asyiral muslimin As’adakumullah,

Jangan membahayakan diri sendiri dan orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh menimbulkan bahaya bagi diri sendiri dan tidak boleh menimbulkan bahaya bagi orang lain.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis ini merupakan kaidah penting dalam Islam. Setiap tindakan yang menimbulkan bahaya harus dicegah sesuai kemampuan dan ketentuan yang berlaku.

Api yang dinyalakan di lahan kering dapat menyebar karena angin. Api yang semula kecil dapat berubah menjadi kebakaran besar. Asap yang dihasilkan dapat menyebar jauh dari lokasi kebakaran dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Oleh sebab itu, jangan meremehkan api sekecil apa pun ketika keadaan memungkinkan terjadinya kebakaran.

Jangan membakar sampah di dekat lahan kering tanpa pengendalian yang aman. Jangan meninggalkan api unggun sebelum benar-benar padam. Jangan membuang puntung rokok sembarangan. Jangan pula melakukan pembakaran lahan dengan cara yang melanggar ketentuan dan membahayakan masyarakat.

Apabila menemukan kebakaran, segera laporkan kepada petugas berwenang dan lakukan tindakan hanya sesuai kemampuan serta memperhatikan keselamatan diri.

Ma’asyiral muslimin Hadakumullah,

Menjaga alam merupakan bagian dari amal kebaikan. Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu tanaman itu dimakan oleh burung, manusia, atau hewan, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Perhatikan, jamaah sekalian! Rasulullah SAW menjelaskan bahwa menanam tanaman yang memberi manfaat kepada makhluk hidup bernilai sedekah.

Jika menanam pohon saja dapat bernilai sedekah, maka menjaga pohon yang telah tumbuh, melindungi hutan dari kebakaran, dan mencegah kerusakan lingkungan merupakan perbuatan yang sejalan dengan semangat ajaran tersebut.

Kita tidak harus menunggu menjadi pejabat atau memiliki hutan yang luas untuk berbuat baik. Setiap orang dapat memulai dari rumahnya sendiri: menjaga kebersihan, mengelola sampah dengan benar, tidak menyalakan api sembarangan, menanam dan merawat pohon, serta mengingatkan keluarga dan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran yang membahayakan.

Ma’asyiral muslimin Hadakumullah,

Menjaga bumi adalah tanggung jawab bersama. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:

إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

“Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Manusia diberi kedudukan dan tanggung jawab untuk mengelola bumi. Amanah ini tidak boleh digunakan untuk merusak kehidupan demi kepentingan pribadi.

Pencegahan karhutla memerlukan kerja sama masyarakat, petani, perusahaan, tokoh agama, pemerintah, dan aparat penegak hukum. Masyarakat perlu memahami bahaya api, pelaku usaha harus mematuhi ketentuan pengelolaan lahan, dan pihak berwenang harus melakukan pencegahan serta penegakan aturan secara adil.

Jika melihat tanda-tanda kebakaran, jangan menunggu sampai api membesar. Laporkan dengan segera. Jika mengetahui pembakaran yang membahayakan, jangan ikut membenarkan atau menutup-nutupinya. Utamakan keselamatan dan tempuh jalur pelaporan yang resmi.

Mari kita tanamkan kepada anak-anak kita bahwa mencintai alam bukan sekadar slogan, melainkan tindakan nyata. Orang yang bertakwa tidak hanya menjaga hubungannya dengan Allah, tetapi juga berusaha agar kehadirannya membawa keselamatan dan manfaat bagi sesama makhluk.

Ma’asyiral muslimin As’adakumullah,

Marilah kita bertanya kepada diri sendiri: apa artinya berdoa memohon hujan, jika kita sendiri turut membiarkan bumi rusak? Apa artinya mengharapkan udara yang bersih, jika kita masih membakar dengan ceroboh? Apa artinya mewariskan kekayaan alam kepada anak cucu, jika yang kita tinggalkan justru hutan yang terbakar dan tanah yang rusak?

Mari kita jadikan masjid sebagai pusat kesadaran, mimbar Jumat sebagai tempat menyampaikan amanah, dan masyarakat sebagai pelopor pencegahan karhutla.

Ma’asyiral muslimin Hadakumullah,

Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah SWT. Ketakwaan harus tercermin dalam ibadah dan perilaku kita, termasuk dalam cara kita memperlakukan lingkungan. Mari kita teguhkan tiga komitmen.

Pertama, tidak membuka lahan dengan cara membakar yang melanggar aturan atau membahayakan orang lain. Kedua, mencegah, mengawasi, dan segera melaporkan kebakaran hutan dan lahan kepada petugas berwenang.

Ketiga, menjaga dan memulihkan lingkungan dengan merawat pepohonan, melindungi sumber air, serta membangun kebiasaan yang tidak merusak alam.

Semoga Allah SWT melindungi negeri kita dari bencana, memberikan kesadaran kepada seluruh masyarakat, dan menuntun para pemimpin agar menegakkan amanah dengan adil. Dan semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, bertanggung jawab, dan mampu menjaga bumi sesuai petunjuk-Nya.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


خطبة الثانية دكتور الحاج حسب الله أحمد

الحمدُ لله اللطيفِ الرؤوفِ المَنَّانِ الْغَنِيِّ القويِّ السِّلْطَان الحَلِيمِ الكَرِيم الرحيم الرحمن الأوَّلِ فلا شَيْءٍ قبلَه الاخِرِ فلا شَيْء بعده الظَاهرِ فلا شَيْء فوْقَه الباطِن فلا شَيْءً دُونَه المحيطِ عِلْمَاٍ بما يكونُ وما كان يُعِزُّ وَيُذِلُ ويُفْقِرُ ويُغْنِي ويفعلُ ما يشاء بحكْمتِهِ كلَّ يَوْم هُو في شان أرسى الأرضَ بالجبالِ في نَوَاحِيها وأرسَلَ السَّحاب الثِّقالَ بماءٍ يُحْييْها وقَضَى بالفناءِ على جميع سَاكِنِيها لِيَجزِيَ الذين أساؤوا بِمَا عَمِلوا ويَجْزِي المُحْسنين بالإِحسان. وأشهد أن لا إله إلاَّ الله وحْدَه لا شريكَ له المَلِكُ الدَّيَّان وأشهد أنَّ محمداً عَبْدُهُ ورسولُهُ المبعوثُ إلى الإِنس والجان اللهم صل على سيدنا محمد صلَّى الله عليه وعلى آله وأصحابه والتابعينَ لهم بإحسان ما توالت الأزمان وسلَّم تسليماً

قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. ثُمَّ اعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ السَّلَامَةَ وَالْعَافِيَةَ فِي الدِّينِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا مِنَ الْحَرَائِقِ وَالْكَوَارِثِ وَالْبَلَاءِ، وَاحْفَظْ غَابَاتِنَا وَأَرَاضِينَا وَمِيَاهَنَا وَهَوَاءَنَا مِنَ الْفَسَادِ وَالتَّلَفِ. اللَّهُمَّ وَفِّقْنَا لِحِفْظِ الْأَمَانَةِ، وَأَصْلِحْ وُلَاةَ أُمُورِنَا، وَاجْعَلْنَا مِنْ عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ الَّذِينَ يَعْمُرُونَ الْأَرْضَ بِالْخَيْرِ وَلَا يُفْسِدُونَ فِيهَا. اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا، مَرِيئًا مَرِيعًا، نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللهم انصر إخواننا فى كل مكان وانصر عبادك الموحدين و اعز الإسلام والمسلمين وازّل الشرك والمشركين والق فى قلوبهم الرعب إنك على كلّ شيئ قدير .اللَّهُمَّ اجْعَلْ لَنَا مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَمِنْ كُلِّ بَلَاءٍ عَافِيَةً، وَمِنْ كُلِّ دُعَاءٍ إِجَابَةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. عِبَادَاللهِ إِنَّ الله يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَائِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَااذْكُرُوالله َالعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُالله ِأَكْبَرُ والله يعلم ماتصنعون. وَأَقِمِ الصَّلاَةَ.


DOWNLOAD PDF DISINI!


 # Perahu Kertas

Aku memulai hari dengan pagi yang sedikit mendung. Matahari tak tampak karena tertutup awan gelap. Namun, aku tetap bersemangat untuk bertemu dengan anak-anak yang begitu hebat. Pada hari itu, aku memulai pembelajaran seperti biasa.

Di dalam kelas, aku melihat anak-anak begitu bersemangat memulai hari mereka. Namun, perhatianku selalu tertuju pada seorang anak. Saat pelajaran Bahasa Indonesia, ia bagaikan mencari jarum dalam jerami ketika merangkai kata. Begitu pula saat belajar Matematika, ia sering merasa bagaikan ayam kehilangan induknya. Ia bingung dan tidak tahu arah menghadapi angka-angka yang rumit. Bahkan, di lapangan saat olahraga, ia seperti kura-kura memanjat pohon, tampak lamban dan kaku.

Namun, setiap hari Kamis setelah shalat Zuhur, kelas kembali bersemangat karena pembelajaran SBdP (Seni Budaya dan Prakarya) akan dimulai. Berbeda dengan pelajaran-pelajaran sebelumnya, anak itu tampak penuh gairah. Ia dengan sigap menyiapkan buku, pensil, dan alat tulis lainnya.

Aku selalu mengamatinya setiap kali waktu itu datang. Baginya, seni adalah tempat ia tidak perlu merasa bagaikan katak di bawah tempurung. Ia sangat mencintai keindahan dan ketelitian.

Pembelajaran pun dimulai, dan suasana kelas menjadi riuh. Aku membawa setumpuk kertas berwarna-warni untuk pelajaran melipat origami.

Aku mulai membuat lipatan demi lipatan yang diamati oleh seluruh peserta didik sambil menjelaskan bahwa kertas harus dilipat dengan rapi agar hasilnya bagus dan sempurna. Kemudian, aku meminta seluruh peserta didik mengikutiku membuat bentuk perahu. Bentuk perahu itu memang tampak sedikit rumit.

Teman-temannya yang biasanya mahir dalam Matematika mulai mengeluh. Mereka merasa seperti menegakkan benang basah, kebingungan melipat kertas dan menentukan sudut lipatan. Ada yang menyerah, ada pula yang kertasnya robek karena dipaksa.

Sementara, anak itu sangat fokus dan tenang, seolah-olah dunia di sekitarnya berhenti berputar. Tangannya yang biasa kaku saat menulis kini menari dengan lincah di atas kertas. Rupanya, kabar baik itu bukan sekadar isapan jempol. Hasil lipatannya tampak sempurna, simetris, dan indah tanpa ada satu pun cacat.

Ketika teman-temannya masih sibuk dengan kertas di tangan mereka, ia sudah berdiri di depan mejaku, tempat aku biasa duduk, lalu berkata, "Bu, saya sudah selesai."

Aku pun terperangah melihat hasil karyanya dan berkata, "Masyaallah, coba Ibu lihat dulu."

Benar saja, lipatannya sangat sempurna dan rapi.

Kemudian aku berkata kepada seluruh kelas, "Anak-anak, lihatlah karya teman kalian ini. Tidak ada usaha yang mengkhianati hasil."

Kelas pun menjadi hening. Mereka yang awalnya menyerah kini mencoba kembali. Mereka mulai bertanya kepadaku tentang cara melipat yang benar untuk memulai dari awal.

Aku tersenyum, menyadari bahwa di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Setiap anak akan selalu menemukan cara untuk bersinar dengan cahayanya sendiri.

 


Khutbah Idul Adha 2026:

“SANTRI, QURBAN, DAN JALAN PENGORBANAN MENUJU RIDHA ALLAH”

       Ust Dr KH Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)

 

DOWNLOAD PDF DISINI!

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ   عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ  

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari yang agung. Hari raya pengorbanan. Hari ketika gema takbir mengguncang langit dan bumi:

الله أكبر الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Hari ini bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Tetapi hari ini adalah pelajaran tentang cinta, keikhlasan, pengorbanan, dan kepatuhan kepada Allah سبحانه وتعالى.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ﴾

“Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2)

Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah,

Ketika kita mendengar kisah Nabi Ibrahim عليه السلام dan putranya Nabi Ismail عليه السلام, sesungguhnya kita sedang belajar tentang arti pengorbanan yang sebenarnya.

Seorang ayah rela mengorbankan anak yang sangat dicintainya demi ketaatan kepada Allah. Dan seorang anak dengan penuh adab berkata:

﴿يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ﴾

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Betapa menggetarkan ayat ini.

Seorang anak yang saleh tidak membantah. Tidak melawan. Tidak marah kepada takdir Allah. Ia memilih taat.

Kaum muslimin rahimakumullah,

Di pesantren-pesantren, kita sering melihat para santri hidup sederhana. Jauh dari orang tua. Bangun sebelum subuh. Menahan rindu kepada keluarga. Menghafal Al-Qur’an dan pelajaran hingga larut malam.

Kadang ada santri yang diam-diam menangis di sudut kamar karena rindu ibunya. Ada yang menahan lapar demi bertahan menuntut ilmu. Ada yang sakit tetapi tetap hadir mengaji karena takut kehilangan keberkahan ilmu.

Itulah qurban seorang santri.

Mereka sedang menyembelih hawa nafsunya. Mereka sedang mengorbankan masa mudanya demi agama Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Idul Adha mengajarkan bahwa tidak ada kemuliaan tanpa pengorbanan.

Orang tua yang ikhlas membiayai anaknya mondok adalah pejuang. Air mata ibu ketika melepas anaknya ke pesantren adalah bagian dari qurban di jalan Allah.

Kadang seorang ibu pulang sambil menangis setelah menitipkan anaknya di pondok. Kamarnya terasa sepi. Tidak ada lagi suara anak yang biasa memanggilnya.

Namun demi agama, demi akhlak, demi masa depan dunia dan akhirat anaknya, ia rela berpisah.

Dan ketahuilah, pengorbanan seperti itu tidak akan sia-sia di sisi Allah.

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ﴾

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. At-Taubah: 120)

Kaum muslimin rahimakumullah,

Hari ini banyak manusia mengejar dunia, tetapi sedikit yang mau berkorban untuk agama. Banyak yang rela begadang demi hiburan, tetapi berat bangun malam untuk tahajud. Banyak yang rela menghabiskan uang untuk kemewahan, tetapi merasa berat bersedekah dan berqurban.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ عَمَلًا أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ إِهْرَاقِ الدَّمِ

“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr/Qurban yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah qurban.” (HR. Tirmidzi)

Namun lebih dalam dari itu, qurban sejati adalah ketika kita mampu menyembelih sifat sombong, iri, malas ibadah, dan cinta dunia yang berlebihan.

Jamaah Idul Adha yang berbahagia,

Mari kita doakan para santri, para guru, para ulama, dan seluruh orang tua yang berjuang mendidik anak-anaknya di jalan Allah.

Marilah kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum memperbaiki diri. Mari bersama kita didik anak-anak kita dengan agama. Dekatkan mereka kepada Al-Qur’an dan para ulama.

Jangan biarkan generasi muda kehilangan arah karena dunia yang penuh fitnah.

Tanamkan kepada mereka bahwa hidup bukan hanya mencari harta, tetapi mencari ridha Allah.

Dan kepada para santri, tetaplah istiqamah.
Kesederhanaan kalian hari ini mungkin terasa berat, tetapi kelak akan menjadi cahaya bagi umat.

Air mata perjuangan kalian di pesantren akan menjadi saksi di hadapan Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

“Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayapnya bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia lakukan.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Idul Adha juga dikenal dengan Hari Raya Haji, Orang yang berhaji meninggalkan rumahnya. Meninggalkan keluarganya. Meninggalkan kenyamanan hidupnya. Mengapa?

 

Karena mereka sadar dunia ini hanya sementara. Tetapi ironisnya… Banyak dari kita terlalu sibuk mempercantik dunia, namun lupa memperbaiki bekal menuju akhirat.

 

Rumah diperbesar, tetapi shalat sering ditinggalkan. Tabungan diperbanyak, tetapi sedekah terasa berat, haji enggan tuk ditunaikan. Media sosial dijaga tampilannya, tetapi hati penuh iri dan dengki. Naudzu billah.

 

Padahal suatu hari nanti… Kita semua akan berangkat menuju perjalanan terakhir. Bukan ke Makkah… tetapi ke alam kubur. Dan saat itu tidak ada lagi kesempatan kembali.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah sekalian,

Hari raya juga mengingatkan kita bahwa hidup ini sementara. Mungkin tahun lalu ada keluarga yang masih bersama kita di shaf shalat Id. Hari ini mereka sudah berada di alam kubur.

 

Mungkin ada ayah yang dulu menggandeng tangan anaknya ke masjid, kini tinggal nama dan doa, Mungkin ada ibu yang dulu menyiapkan makanan hari raya, sekarang hanya tinggal kenangan.

 

Karena itu sebelum terlambat: Peluk orang tua kita. Maafkan saudara kita. Perbaiki shalat kita. Dan dekatkan hati kita kepada Allah SWT.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Kita sedang sedih dan pilu melihat kondisi dunia saat ini, Dimana saudara/i kita se iman diuji dengan kejahatan perang di Palestina dan beberapa negara Muslim lainnya, Mari kita terus istiqamah mendoakan dan mendukung bangsa Palestina dan negara negara islam yang tertindas dengan segala upaya yang dapat dilakukan. Semoga bangsa Palestina dan negara negara islam yang tertindas segera mendapatkan pertolongan dari Allah swt berupa kemerdekaan dan kebebasan dari serangan penjajah.

 

Dan semoga Jama’ah Haji senantiasa mendapatkan berkah, Mabrur dan Maqbul amaliyah hajinya serta membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia dan Negeri Jambi menuju baldatun thayyibatun wa Rabb al Ghafur.

Kita juga berdoa semoga lahir generasi yang kuat ilmu, kuat iman, dan kuat akhlaknya.

Generasi yang menjaga Al-Qur’an. Generasi yang menjaga bangsa dengan iman. Generasi yang rela berkorban demi agama.

جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولِينَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمِ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

 


Khutbah Idul Adha 2026:

Membangun Generasi Tangguh di Era Modern,  Teladan Nabi Ibrahim as.

       Ust Dr KH Hasbullah Ahmad, MA

(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)



DOWNLOAD FILE PDF DISINI!

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ  

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِذَبْحِ الْأُضْحِيَّةِ. وَبَلَغَنَا إِلَى هٰذَا الْيَوْمِ مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ ذُوْ رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ تُرْجَى مِنْهُ الشَّفَاعَةُ. أَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الرَّحْمَةِ، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ ذَوِي الْعُقُوْلِ السَّلِيْمَةِ، صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، أَمَّا بَعْدُ   عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ  

 

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Pada momentum bahagia ini, marilah kita perkuat takwa dalam sanubari, dan kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Takwa adalah cahaya hati, pelindung diri, penuntun langkah menuju surga yang abadi. Takwa bisa kita teladani dari momentum Hari Raya Idul Adha ini. Di mana kita diberikan keteladanan dari keluarga Nabi Ibrahim as yang senantiasa patuh pada Ilahi. Keteladanan ini sangat berharga bagi kemaslahatan dan keberkahan keluarga yang sangat kita cintai.

 

Hari Raya Idul Adha bukan sekadar penyembelihan hewan kurban semata. Lebih dari itu, ibadah ini adalah simbol pengorbanan dan ketaatan yang diwariskan dari Nabi Ibrahim as dan keluarga. Mereka adalah teladan kita yang menjunjung tinggi nilai iman, keikhlasan, dan kepatuhan kepada Allah swt.

 

Keteladanan mereka tetap relevan hingga kini, khususnya saat mendidik putra-putri kita dalam keluarga. Salah satu Pelajaran dari keluarga Nabi Ibrahim as adalah pentingnya mendidik anak dengan ketauhidan dan keteladanan yang mulia. Nabi Ibrahim as tidak hanya mengajarkan tentang Allah swt melalui ucapan kata, tetapi juga melalui perbuatan nyata.

   

Nabi Ibrahim as menunjukkan kesungguhan dalam beribadah. Ia jujur dalam bersikap, teguh dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan dan tak pernah goyah.

 

Orang tua masa kini harus menyadari bahwa anak belajar lebih cepat melalui teladan bukan hanya perkataan dan perintah. Selain itu, Nabi Ibrahim as juga memberikan ruang kepada putranya, Nabi Ismail as, untuk menyampaikan pendapatnya dalam peristiwa besar penyembelihan. Meskipun perintah itu datang dari Allah swt, Nabi Ibrahim as tetap berdialog dengan anaknya untuk meyakinkan. Hal ini terekam dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ  

“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?.” (As-Shaffat: 102).

  

Yang dilakukan Nabi Ibrahim as ini adalah bentuk penghargaan kepada anak tercinta. Ini adalah contoh baik komunikasi dua arah dalam keluarga. Ini adalah hal yang sangat penting untuk ditanamkan dalam kehidupan rumah tangga.  

 

Kisah Nabi Ibrahim as dan istrinya, Siti Hajar juga mengajarkan tentang keikhlasan dalam menghadapi ujian kehidupan. Mereka diuji dengan berbagai cobaan berat dengan berbagai tantangan.  Mereka sempat lama tak memiliki keturunan.

 

Nabi Ibrahim as harus meninggalkan keluarga di padang pasir yang gersang tanpa ada tumbuh-tumbuhan. Setelah memiliki anak, Allah swt malah memerintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail as, anak yang selama ini diidam-idamkan.

Semua itu mereka jalani dengan penuh keikhlasan dan keimanan. Dari sini, kita sebagai orang orang tua diajarkan untuk tetap sabar dan ikhlas dalam memberikan Pendidikan. Bahkan ketika harus menghadapi perubahan dan arus tantangan zaman.  

 

Takwa diiringin dengan doa dan tawakal menjadi kekuatan utama. Nabi Ibrahim as tak lelah berhenti berdoa kepada Allah swt. Dalam QS As-Shaffat ayat 100 tertulis doanya:  

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ  

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (keturunan) yang termasuk orang-orang saleh.”

  

Hal ini mengajarkan kita bahwa dalam mendidik putra putri tercinta, kita sebagai orang tua tidak boleh mengandalkan usaha semata. Tetapi harus terus memanjatkan doa dan bertawakal sepenuhnya kepada Allah swt.

  

Siti Hajar sebagai seorang istri pun memberikan teladan berharga bagi kita. Ia adalah teladan perempuan yang kuat, sabar, dan penuh keyakinan pada pertolongan Allah swt.  Saat ditinggalkan di padang pasir bersama bayi kecilnya, ia tidak mengeluh dan diam saja. Ketika mengetahui bahwa itu adalah perintah Allah swt yang maha kuasa, ia yakin bahwa Allah swt tidak akan menyia-nyiakannya.

   

Dengan perjuangan yang diabadikan dalam ibadah Haji yakni Sa’i, berlari-lari dari bukit Shafa dan Marwa, kita belajar bahwa seorang ibu harus memiliki ketegaran baja dan keyakinan dalam menjalani peran mendidik anak, meski dalam keadaan sulit yang menerpa.

  

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Bagi anak-anak yang merupakan generasi penerus di masa yang akan datang, kisah perjuangan keluarga Nabi Ibrahim as ini menyimpan pesan yang penting dan cemerlang. Nabi Ismail as menunjukkan keteladanan luar biasa dalam hal ketaatan kepada orang tua sebagai simbol rasa sayang.

  

Selama perintah itu sejalan dengan kehendak Allah swt, Nabi ismail as tidak akan pernah menentang. Ketika Nabi Ibrahim as menyampaikan perintah Allah swt untuk menyembelihnya, Nabi Ismail as tidak membangkang. Ia justru menunjukkan sikap tunduk dan berkata dengan terang:  

قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ  

“Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (As-Shaffat: 102).

  

Dengan jawaban tanpa keraguan, Nabi Ismail as memberikan teladan kepada setiap anak untuk taat kepada orang tua dalam cinta dan kebaikan. Ketaatan pada orang tua adalah bagian dari bentuk pengabdian kepada Allah swt yang Maha menentukan. Dan Ingat, kemurkaan orang tua juga merupakan murka Tuhan. Rasulullah mengingatkan:  

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ  

“Ridha Allah ada pada ridha kedua orang tua dan murka Allah ada  pada murka kedua orang tua.” (HR At-Tirmidzi).  

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Selain ketaatan, Nabi Ismail as juga memberi teladan dalam hal keberanian dan kesabaran menghadapi ujian. Ia tidak lari dari takdir, tidak menangis, dan tidak mempertanyakan keputusan Allah swt yang berat ia rasakan. Ia memahami bahwa semua perintah Allah swt pasti mengandung hikmah dan pelajaran.

  

Prinsip ini menjadi modal penting besar bagi anak-anak yang kini hidup di beda zaman. Para generasi muda tidak boleh gampang menyerah dan terus menguatkan keyakinan, bahwa setiap ujian dalam kehidupan adalah sarana untuk menjadi pribadi yang lebih kuat dan tahan pada cobaan.

  

Keikhlasan Nabi Ismail as juga sangat menginspirasi. Ia tidak hanya taat secara lahir, tetapi juga ikhlas dalam menerima takdir dari dalam hati. Ia memiliki tanggung jawab spiritual sejak usia dini. Ini menunjukkan bahwa anak-anak juga harus berperan aktif dalam menjalankan nilai-nilai agama, bahkan tanpa disuruh sama sekali.  

 

Yang tidak kalah penting, Nabi Ismail as juga menunjukkan bahwa ia memahami perjuangan dan keputusan ayahnya. Ia tidak menyalahkan Nabi Ibrahim as karena hendak menyembelihnya. Ia tahu bahwa itu adalah perintah dari Allah swt.

 

Para generasi muda harus belajar menghargai jerih payah orang tua yang berjuang demi kebaikan mereka. Meskipun terkadang keputusan orang tua terasa berat dan tidak sesuai dengan keinginannya.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Kisah keluarga Nabi Ibrahim as, Siti Hajar, dan Nabi Ismail as adalah bukti nyata bahwa keluarga merupakan madrasah pertama bagi kita semua. Di sanalah nilai-nilai tauhid, kesabaran, komunikasi, dan keikhlasan ditanamkan sepenuhnya.

 

Hubungan antara orang tua dan anak dalam keluarga tidak hanya dibangun atas dasar kasih sayang, tetapi juga atas dasar iman dan takwa.  

 

Dengan menjadikan keluarga Nabi Ibrahim as sebagai teladan, mudah-mudahan kita dapat membangun fondasi keluarga berlandaskan iman.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Idul Adha juga dikenal dengan Hari Raya Haji, Orang yang berhaji meninggalkan rumahnya.
Meninggalkan keluarganya. Meninggalkan kenyamanan hidupnya. Mengapa?

 

Karena mereka sadar dunia ini hanya sementara. Tetapi ironisnya… Banyak dari kita terlalu sibuk mempercantik dunia, namun lupa memperbaiki bekal menuju akhirat.

 

Rumah diperbesar, tetapi shalat sering ditinggalkan. Tabungan diperbanyak, tetapi sedekah terasa berat, haji enggan tuk ditunaikan. Media sosial dijaga tampilannya, tetapi hati penuh iri dan dengki. Naudzu billah.

 

Padahal suatu hari nanti… Kita semua akan berangkat menuju perjalanan terakhir. Bukan ke Makkah… tetapi ke alam kubur. Dan saat itu tidak ada lagi kesempatan kembali.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah sekalian,

Hari raya juga mengingatkan kita bahwa hidup ini sementara. Mungkin tahun lalu ada keluarga yang masih bersama kita di shaf shalat Id. Hari ini mereka sudah berada di alam kubur.

 

Mungkin ada ayah yang dulu menggandeng tangan anaknya ke masjid, kini tinggal nama dan doa, Mungkin ada ibu yang dulu menyiapkan makanan hari raya, sekarang hanya tinggal kenangan.

 

Karena itu sebelum terlambat: Peluk orang tua kita. Maafkan saudara kita. Perbaiki shalat kita.
Dan dekatkan hati kita kepada Allah SWT.

 

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، وَللهِ الْحَمْدُ  

Jamaah shalat Idul Adha Rahimakumullah,

Kita sedang sedih dan pilu melihat kondisi dunia saat ini, Dimana saudara/i kita se iman diuji dengan kejahatan perang di Palestina dan beberapa negara Muslim lainnya, Mari kita terus istiqamah mendoakan dan mendukung bangsa Palestina dan negara negara islam yang tertindas dengan segala upaya yang dapat dilakukan. Semoga bangsa Palestina dan negara negara islam yang tertindas segera mendapatkan pertolongan dari Allah swt berupa kemerdekaan dan kebebasan dari serangan penjajah.

 

Dan semoga Jama’ah Haji senantiasa mendapatkan berkah, Mabrur dan Maqbul amaliyah hajinya serta membawa keberkahan bagi bangsa Indonesia dan Negeri Jambi menuju baldatun thayyibatun wa Rabb al Ghafur. Amin Ya Rabb.

 

 جَعَلَنَا اللَّهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِينَ وَالْفَائِزِينَ وَالْمَقْبُولِينَ كُلَّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ. آمِينَ   بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ، وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ. وَقُلْ رَّبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ  


 

Khutbah II

​​​​​​​اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ   الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ   اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، اَللّهُمَّ اجْعَلْ حَجَّهم حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَعَمَلاً صَالِحًا مَقْبُوْلاً وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ يَاعَالِمَ مَا في الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّوْر اللّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا فِي فِلِسْطِين وَبِلاَدُ المُسْلِمِيْنَ المُسْتَضْعَفِيْنَ، وَاحْفَظْهُمْ، وَارْحَمْهُمْ، وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ، وَفَرِّجْ كُرُوبَهُمْ، وَاكْتُبْ لَهُمُ النَّصْرَ وَالْعِزَّةَ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّهِمْ وَعَدُوِّكَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Gambar tema oleh Ollustrator. Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget