Masjid Laksamana Cheng Ho Kenali Asam Bawah Jambi:
Jaga
Lisan dari Komentar Negatif
Khatib : Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah
Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN
STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah
Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)
DOWNLOAD PDF DISINI!
الحَمْدُ
لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ
سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ
الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ
الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ،
وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ
خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ
وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، فَيَاأَيُّهَا
الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا
وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ
وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا
تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ
الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Mari bersama-sama kita menguatkan
keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt, sebab Iman dan takwa yang kita miliki
ini merupakan anugerah yang tidak semua umat manusia memilikinya. Kita harus
bersyukur, walaupun terpaut jarak yang jauh dan beda zaman dengan Nabi Muhammad
SAW sebagai pembawa risalah ilahiyah, namun kita dianugerahkan kesempatan hidup
dalam Islam, sebagai agama samawi pamungkas yang sempurna dan agama yang
diridhoi oleh Allah swt. Hal ini ditegaskan dalam Qur’an surat Al-Maidah ayat
3:
اَلْيَوْمَ
اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ
لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ
“Pada hari ini telah Aku
sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah
Aku ridai Islam sebagai agamamu”
Jama’ah Jumat yang berbahagia,
Bangsa Indonesia saat ini masih berada dalam suasana duka. Bencana
alam yang melanda beberapa wilayah di Sumatera telah merenggut lebih dari 900
nyawa, dan lebih dari 200 orang masih dinyatakan hilang. Dalam situasi ini,
banyak masyarakat yang saling bahu-membahu membantu para korban melalui penggalangan
donasi maupun turun langsung ke lapangan.
Namun demikian, masih saja kita temukan komentar-komentar negatif
yang mengaitkan musibah ini dengan azab, dosa, atau ucapan lain yang dapat
melukai perasaan para korban.
Perlu kita pahami bersama bahwa tidak semua bencana dapat langsung
dikaitkan dengan azab. Ada kalanya bencana merupakan ujian dari Allah SWT untuk
mengukur kualitas hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ
الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ
وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ
“Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan,
kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,)
kabar gembira kepada orang-orang sabar”.
(Qs. Al-Baqarah: 155).
Pada surat Al-Baqarah ayat 155 ini, Allah menegaskan akan
memberikan cobaan kepada setiap umat Islam sebagai ujian di dunia. Cobaan
tersebut bisa berupa kekhawatiran, kelaparan, kurangnya harta, kematian kerabat
ataupun yang lainnya.
Jama’ah Jumat Rahimakumullah.
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirul Qur’anil Azhim juz 1 hal 338
berkata:
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ
أَيْ بِقَلِيلٍ مِنْ ذَلِكَ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوالِ أَيْ ذَهَابُ بَعْضِهَا
وَالْأَنْفُسِ كَمَوْتِ الْأَصْحَابِ وَالْأَقَارِبِ وَالْأَحْبَابِ وَالثَّمَراتِ
أَيْ لَا تُغِلُّ الحدائق والمزارع كعادتها
“(Kami pasti akan menguji kalian) dengan sedikit ketakutan dan
kelaparan, kekurangan harta dengan hilangnya sebagian harta, hilangnya nyawa
seperti meninggalnya sahabat, kerabat ataupun orang yang dicinta serta ujian
dari panen buah-buahan dari perkebunan dan pertanian yang tidak menghasilkan
seperti biasanya”.
Dari penjelasan Ibnu Katsir di atas, dapat dipahami bahwa, umat
manusia tidak dapat melepaskan diri dari ujian yang diberikan Allah. Baik itu
ujian yang menimpa diri sendiri, kerabat ataupun sesama umat Islam.
Umat Islam juga diperintahkan untuk selalu membantu dan menolong
sesama, terutama kepada mereka yang sedang ditimpa musibah. Rasulullah SAW
bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا
نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ
عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
"Dari Abi Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda:
Barangsiapa yang meringankan satu beban dari seorang mukmin maka Allah akan
meringankan bebannya di hari kiamat, dan barangsiapa membantu orang mukmin yang
sedang kesusahan maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat".(HR. Muslim)
Jamaah Jumat Rahimani wa Rahimakumullah,
Di sisi lain, mengucapkan komentar-komentar negatif terhadap korban
bencana termasuk ke dalam ujaran kebencian yang sangat dilarang dalam Islam.
Hal tersebut ditegaskan dalam Al-Qur’an bahwa tidak diperkenankan bagi umat
Islam untuk mengolok-olok satu sama lain, sebab boleh jadi yang diolok-olok
lebih baik derajatnya di sisi Allah.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا
يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا
نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا
تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ
الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الظّٰلِمُوْنَ
"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum
mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan
itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula
perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan
(yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok).
Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk.
Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang
tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim." (Qs. Al-Hujurat: 11)
Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid juz II hal 438
menjelaskan bahwa ayat di atas turun untuk menegur beberapa kelompok atau
individu pada masa kenabian yang suka menghina dan mencaci maki orang lain
dengan sebutan yang buruk. Ayat ini juga merupakan penegasan dari Allah SWT
kepada umat manusia agar tidak saling menghina satu sama lain.
Syekh Nawawi al Bantani menjelaskan bahwa kandungan surat
Al-Hujurat ayat 11 ini mengajak umat manusia agar menjaga lisannya dalam
berucap sesuatu kepada orang lain. Syekh Nawawi berkata dalam tafsirnya:
وَمَعْنَى الْآيَةِ: لَا
تَحْتَقِرُوْا إِخْوَانَكُمْ وَلَا تَسْتَصْغِرُوْهُمْ عَسَى أَنْ يَكُونُوا
خَيْرًا مِنْهُمْ تَعْلِيْلٌ لِلنَّهْيِ، أَيْ عَسَى أَنْ يَكُوْنَ الْمَسْخُوْرُ
مِنْهُمْ خَيْرًا عِنْدَ الله تَعَالَى مِنَ السَّاخِرِيْنَ، وَلَا نِساءٌ مِنْ
نِساءٍ
“Kandungan ayat di atas memiliki makna: Janganlah kalian menghina
dan mengerdilkan saudara-saudara kalian sebab boleh jadi mereka yang dihina
lebih baik di sisi Allah daripada yang menghina. Hal ini berlaku juga bagi kaum
perempuan.”
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,
Ajaran Islam tidak hanya melarang kita merendahkan dan menyakiti
saudara kita dengan ucapan, tetapi justru mendorong kita untuk meringankan
beban mereka, apalagi ketika mereka sedang tertimpa musibah. Dalam situasi
seperti ini, yang dibutuhkan adalah empati, doa, dan bantuan nyata, bukan
komentar yang melukai.
Bahkan Allah mengingatkan dalam firman-Nya agar kita tidak
meremehkan saudara kita, karena boleh jadi mereka jauh lebih mulia di sisi-Nya.
Rasulullah SAW pun menegaskan keutamaan besar bagi siapa saja yang berusaha
menghilangkan kesulitan saudaranya.
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه
قال, قال رسول الله صلى الله عليه وسلم قَالَ: مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ
كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ
اْلقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعَسِّرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ
الدُّنْيَا وَالآَخِرَةِ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمَاً سَتَرَهُ اللهُ فِيْ
الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ، وَاللهُ فِيْ عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي
عَوْنِ أَخِيْهِ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah SAW
bersabda, “Siapa yang meringankan satu kesulitan seorang mukmin dari
kesulitan-kesulitan dunia, maka Allah akan meringankan baginya satu kesulitan
dari kesulitan-kesulitan pada hari kiamat. Siapa yang memberi kemudahan kepada
orang yang sedang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan
di akhirat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi
aibnya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama
hamba itu menolong saudaranya.” (HR Muslim).
Jama’ah Jumat Hadaniallahu Li wa Lakum..
Demikian khutbah Jumat ini khatib sampaikan. Sebagai penutup,
khatib mengingatkan bahwa bangsa serta negeri kita adalah bangsa dan negeri
yang berbudi luhur. Karena itu, marilah kita menjaga lisan kita dari
komentar-komentar negatif terhadap saudara-saudara kita yang sedang tertimpa
bencana. Mari pula kita bantu mereka, setidaknya dengan mengirimkan doa-doa
terbaik agar keadaan mereka segera membaik. Amin Ya Rabb..
Khutbah Jumat
Masjid Nurul Islam Kebun
Daging Kota Jambi
Bencana
sebagai Alarm Peringatan dari Alam
Khatib : Ust Dr H Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)
DOWNLOAD FILE PDF DISINI!
اَلْـحَمْدُ
لِلّٰهِ الَّذِي أَنْعَمَ عَلَيْنَا نِعَمًا، وَأَظْهَرَ فِي الْكَوْنِ آيَاتٍ
تُذَكِّرُنَا حِكَمًا، وَبَسَطَ لَنَا فِي الْأَرْضِ خَيْرًا نَجْنِيهِ فَهْمًا،
وَنَبَّهَنَا إِلَى مَا نُحْدِثُهُ فِيهَا رَشَدًا وَاهْتِمَامًا. أَشْهَدُ أَنْ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِقْرَارًا وَوَعْيًا
وَالْتِزَامًا، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
الَّذِي هَدَانَا نُورًا وَرَحْمَةً وَسَلَامًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ
عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى ، وَقَدْ
قَالَ:وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Jamaah kaum
muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Segala puji kita
panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan yang senantiasa mencurahkan karunia
kepada kita tanpa henti. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
junjungan kita Nabi Muhammad Saw yang menunjukkan kita jalan kebenaran dengan
akhlak yang lembut dan ajaran yang berkah, juga kepada keluarganya para
sahabat, dan seluruh umat Islam yang meneladani sunnah-sunnahnya hingga hari
akhir.
Jamaah kaum muslimin
yang dirahmati oleh Allah,
Marilah kita menguatkan
ketakwaan kepada Allah Swt dengan memperbanyak amal yang diridhai dan menjaukan
diri dari setiap larangan-Nya. Karena setiap tingkah laku kita akan diketahui
dan dicatat oleh-Nya. Sebagaimana firman Allah Swt yang terkandung dalam surat
Al-Maidah ayat 8:
وَاتَّقُوا اللّٰهَ اِنَّ
اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِمَا تَعْمَلُوْنَ
Artinya: “Bertakwalah
kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Jamaah kaum muslimin
yang dirahmati oleh Allah,
Jika kita menengok
keadaan alam saat ini, khususnya di Indonesia, maka kita akan melihat begitu
banyak perubahan yang mengkhawatirkan. Sungai yang dulu jernih kini keruh dan
tercemar oleh limbah serta sampah. Udara yang seharusnya menjadi sumber
kehidupan justru dipenuhi asap dan polusi. Hutan yang dahulu rimbun, tempat
berbagai makhluk hidup dengan ekosistemnya, kini banyak yang hilang akibat
pembabatan penggundulan hutan tanpa reboisasi.
Semua kerusakan itu,
terjadi karena ulah kita sebagai umat manusia yang enggan merawat alam. Yakni,
ketika kita lebih mementingkan keuntungan sesaat daripada kelestarian, ketika
keserakahan mengalahkan kepedulian, dan ketika hawa nafsu lebih kuat daripada
tanggung jawab.
Allah Swt telah
mengingatkan kita dengan sangat jelas nan tegas bahwa kerusakan yang tampak di
darat maupun di laut bukanlah sesuatu yang hadir begitu saja tetapi
akibat ulah kita sebagai manusia, agar kita sadar, kembali, dan memperbaiki
diri. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ar-Rum ayat 41:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ
الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: “Telah tampak
kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui
hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”
Jamaah kaum muslimin
yang dirahmati oleh Allah,
Al-Baidhawi dalam
Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil, jilid 4, halaman 208 menjelaskan, makna fasad
yang berarti kerusakan pada QS. Ar-Rum ayat 41 tersebut, sebagai berbagai
bencana alam yang tampak di darat dan laut, karena ulah manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي
الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدْبِ وَالْمَوْتَانِ وَكَثْرَةِ الْحَرْقِ
وَالْغَرَقِ وَإِخْفَاقِ الْغَاصَّةِ وَمَحْقِ الْبَرَكَاتِ وَكَثْرَةِ
الْمَضَارِّ، أَوِ الضَّلَالَةِ وَالظُّلْمِ وَقِيلَ الْمُرَادُ بِالْبَحْرِ قُرَى
السَّوَاحِلِ، وَقُرِئَ: وَالْبُحُورِ. بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ بِشُؤْمِ
مَعَاصِيْهِمْ أَوْ بِكَسْبِهِمْ إِيَّاهُ
Artinya: “(Kerusakan di
darat dan di laut) itu tampak dalam bentuk kekeringan, kematian, banyaknya
kebakaran dan tenggelam (banjir atau tsunami), gagalnya usaha, hilangnya
keberkahan, meningkatnya mudarat (kesialan), atau berupa kesesatan dan
kezaliman. Dan ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan laut adalah
desa-desa pesisir, dan terdapat pula qira’ah dengan lafaz al-buhur. (Semua itu)
disebabkan oleh apa yang diperbuat tangan manusia yakni karena buruknya dampak
maksiat mereka atau karena perbuatan mereka sendiri.”
Jamaah kaum muslimin
yang dirahmati oleh Allah, Fenomena alam yang kita saksikan hari ini,
menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang nyata. Banjir datang lebih sering, suhu
udara sekitar pemukiman menjadi tidak stabil dan cenderung panas, hutan terus
menyusut, dan polusi ada di mana-mana. Semua ini bukan terjadi tanpa sebab,
melainkan akibat dari ulah kita sebagai manusia tamak yang mengabaikan
keseimbangan dan melampaui batas yang Allah tetapkan bagi bumi. Bencana
yang terjadi seakan mengajak kita untuk merenung, melihat kembali cara kita
memperlakukan bumi, dan memperbaiki kesalahan yang telah diperbuat. Allah
menegaskan dalam QS. Asy-Syura ayat 30:
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ
مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ
Artinya: “Musibah apa
pun yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri dan (Allah)
memaafkan banyak (kesalahanmu).”
Wahbah Az-Zuhaili dalam
Tafsir al-Munir, jilid 25, halaman 72 menegaskan, musibah atau bencana yang
menimpa manusia tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi memiliki keterkaitan
dengan perbuatan manusia. Ia menjelaskan bahwa berbagai bencana dan keadaan
yang tidak menyenangkan, seperti sakit, kekeringan, tenggelam, petir, gempa,
dan semisalnya, sering kali muncul sebagai konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan
kepada alam.
Jamaah kaum muslimin
yang dirahmati oleh Allah, Kita memahami bahwa kerusakan alam dan bencana yang
terjadi bukan sekadar peristiwa natural atau hanya takdir Tuhan semata, tetapi
sangat terkait dengan perilaku kita yang mengabaikan kelestarian. Ketika
keseimbangan alam dirusak, maka dampaknya akan kembali kepada manusia, sebagai
pengingat agar kita memperbaiki sikap dan menghentikan kebiasaan yang merugikan
lingkungan.
Rasulullah
Saw mengingatkan hal itu dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam
Muslim, bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ
خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ
تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ
فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya
dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai
pengelola (khalifah) di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka
berhati-hatilah terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap godaan
perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada urusan
perempuan.” (HR. Muslim)
Untuk itu, marilah kita
jaga dan rawat alam ini dengan penuh kesadaran sebagai bagian dari ketakwaan
kita kepada Allah Swt. Mari kita mulai dengan langkah-langkah kecil seperti
mengurangi sampah, menjaga kebersihan lingkungan, menanam pohon, serta
menghindari perbuatan yang merusak alam. Semoga Allah menjadikan kita menjadi
hamba-Nya yang amanah dalam memelihara bumi dan menjauhkan kita dari musibah.
Aamiin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ
فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ
اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ
الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Hindari
Sikap Julid dalam Kehidupan
Ust Dr KH Hasbullah Ahmad MA
(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains
Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois
Syuriah PWNU Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil
Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)
DOWNLOAD PDF DISINI!
اَلْـحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي
أَمَرَنَا بِصِيَانَةِ اللِّسَانِ عَنِ الْمُسْلِمِينَ، وَنَهَانَا عَنِ
الْغِيبَةِ وَالنَّمِيمَةِ وَالظُّلْمِ لِلنَّاسِ أَجْمَعِينَ، وَوَعَدَ لِمَنْ
طَهَّرَ قَلْبَهُ وَحَفِظَ لِسَانَهُ جَنَّاتِ النَّعِيمِ وَرِضْوَانَ رَبِّ
الْعَالَمِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ
لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا وَشَفِيْعَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَدَّى الْأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ
الْأُمَّةَ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِيْنُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى
نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ
تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا
الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى ، فَقَدْ
قَالَ فِي الْقُرْآنِ الْمُبِينِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللّٰهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا
عَظِيْمًا
Kaum
muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Syukur
kepada Allah SWT dan Sholawat kepada Rasulullah adalah sebuah keniscayaan dalam
kehidupan kita, maka marilah kita terus meningkatkan kualitas takwa kepada
Allah Swt, dengan memperbanyak amal saleh dan menahan diri dari segala bentuk
keburukan. Salah satu caranya adalah dengan menjaga hati dan lisan dalam
kehidupan sehari-hari. Sebab dalam Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 70-71
disebutkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًاۙ يُّصْلِحْ لَكُمْ اَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ
فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
“Wahai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar. Niscaya Dia (Allah) akan memperbaiki amal-amalmu dan
mengampuni dosa-dosamu. Siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia
menang dengan kemenangan yang besar.”
Kaum
muslimin yang berbahagia,
Di
zaman sekarang, kita semakin sering menemukan, perilaku julid yang seolah-olah
dinormalisasi oleh sebagian masyarakat. Berbagai platform media sosial yang
seharusnya menjadi tempat atau sarana untuk berbagi kebaikan, justru penuh
dengan sikap julid dalam bentuk komentar-komentar negatif, cibiran, dan olokan
terhadap orang lain.
Padahal,
aktivitas semacam itu sangat tidak diperbolehkan dalam Islam. Seperti yang kita
sama-sama tahu, bahwa julid merupakan perilaku iri terhadap keberhasilan orang
lain di sekitar kita, yang tercermin lewat tindakan mengomentari atau menyindir
mereka dengan tujuan menjatuhkan atau mencemooh.
Tanpa
tersadari, terkadang kebiasaan ini kita lakukan secara langsung lewat ucapan,
namun tidak jarang pula lewat tulisan di media sosial. Mengapa perilaku yang
demikian sangat tidak diperkenankan bagi seorang muslim? Sebab, tindakan julid
setidaknya beririsan dengan 3 perbuatan tercela yang terlarang dalam Islam,
yakni hasad, ghibah, dan namimah.
Kaum
muslimin yang berbahagia,
Julid
sering kali lahir dari perasaan hasad (iri hati). Yakni, saat seseorang
merasa tidak senang melihat keberhasilan, kebahagiaan, atau kelebihan orang
lain, maka rasa iri itu muncul dan tersalurkan lewat komentar, ujaran
kebencian, dan sindiran. Fenomena perilaku semacam ini merupakan salah satu
bentuk julid yang paling sering kita temukan dalam kehidupan, baik di dunia
nyata atau dalam ruang digital sehari-hari.
Kita
sebagai hamba Allah yang merasa diri sebagai muslim, tidak boleh melakukan hal
tersebut. Secara tegas dilarang oleh Rasulullah Saw. Dalam sebuah hadits,
bersumber dari Anas bin Malik disebutkan:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ
رَسُولَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لَا تَبَاغَضُوا،
وَلَا تَحَاسَدُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَكُونُوا عِبَادَ اللّٰهِ
إِخْوَانًا،
“Dari
Anas bin Malik, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda, Janganlah kalian saling
membenci, jangan saling iri hati (hasad), dan jangan saling membelakangi.
Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).
Kaum
muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Selain
mengarah kepada hasad, julid juga hampir selalu berujung pada ghibah
(menggunjing). Orang yang julid kerap membicarakan keburukan orang lain,
mengomentari penampilan, ucapan, atau kehidupan pribadi orang lain yang tidak
ada kaitannya dengan dirinya. Meskipun dibungkus dengan humor atau ucapan
“hanya bercanda,” namun hakikatnya sama karena tetap mengupas aib yang
seharusnya ditutup.
Sebagaimana
yang telah maklum, perbuatan ghibah adalah salah satu dosa besar, terlarang
dan dapat merugikan diri sendiri. Disebutkan dalam hadits Rasulullah Saw,
diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
قَالَ رَسُولُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ
الْإِيمَانُ قَلْبَهُ، لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ، وَلَا تَتَّبِعُوا
عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللّٰهُ
عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللّٰهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Rasulullah
Saw bersabda, Wahai orang-orang yang beriman dengan lisannya tetapi imannya
belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menggunjing (mengghibah) kaum
Muslimin dan jangan mencari-cari kesalahan mereka. Sesungguhnya siapa yang
mencari-cari kesalahan saudaranya, Allah akan membuka aibnya; dan siapa yang
Allah buka aibnya, maka Allah akan mempermalukannya meskipun di dalam rumahnya
sendiri.” (HR. Ahmad)
Kaum
muslimin yang berbahagia.
Setelah
hasad dan ghibah, julid juga acap kali menggiring kepada namimah.
Karena ketika informasi sensitif-negatif disebarkan, di-capture, atau
diceritakan ulang, maka akan mengantarkan kepada adu domba.
Julid
jenis ini, memang awalnya hanya komentar pribadi, namun bisa berakibat fatal.
Karenanya, hubungan pertemanan dan silaturahim dapat terputus, menimbulkan
kebencian, bahkan mengadu satu pihak dengan pihak lain.
Selain
itu, dengan kita melakukan julid yang menjurus kepada namimah ini pula,
langkah cita-cita kita yang ingin masuk surga, juga dapat terhenti seketika.
Sebab, dalam hadits riwayat Imam Muslim disebutkan:
فَقَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ
اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ نَمَّامٌ
“Dari
Hudzaifah r.a. berkata, Aku mendengar Rasulullah bersabda, Tidak akan masuk
surga orang yang suka mengadu domba (nammam).” (HR. Muslim)
Kaum
muslimin yang dirahmati oleh Allah,
Kita
memahami bahwa sikap julid bukanlah hal yang sepele. Ia bisa berawal dari rasa
iri, lalu berubah menjadi ghibah, dan berakhir pada namimah. Tiga hal ini
merupakan dosa besar yang sangat dilarang dalam Islam karena dapat merusak
hati, meretakkan hubungan antarsesama, serta menghapus pahala amal
kebaikan.
Maka,
kita sebagai seorang muslim yang benar-benar memahami ajaran agama, hendaknya
menjaga lisan dan menahan diri dari membicarakan keburukan orang lain, baik
secara langsung maupun di media sosial.
Kita
juga terus berdoa untuk kebaikan bangsa, Negara dan negeri kita dan terjaga
dari segala keburukan, perpecahan dan adu domba, kita juga mendoakan saudara/I
kita di berbagai Negara Muslim khususnya di Palestina dianugerahkan kedamaian,
kesejahteraan dan terhindar dari berbagai kejahatan dan genosida. Amin Ya Rabb…
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي
الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ
وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ
وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ
الرَّحِيْمُ
Khutbah Jumat
Masjid Nurul Falah Purnama
Menjaga Aib
Orang Lain di Era Digital
Ust Dr KH Hasbullah Ahmad, MA
(Owner Sekolah Qur’an Hadis dan Sains Jambi, Dosen Tetap Ilmu al-Qur’an, tafsir dan Hadis UIN STS Jambi, Wakil Rois Syuriah PWNU Provinsi Jambi dan Ketua Komite Dakwah Khusus MUI Kota Jambi, Wakil Pimpinan Ponpes PKP al Hidayah Jambi)
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ السِّتْرَ خُلُقًا
لِلصَّالِحِينَ، وَنَهَى عَنِ التَّجَسُّسِ وَتَتَبُّعِ أَخْبَارِ النَّاسِ سِّرًا
وَعَلَانِيَةً بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيبَنَا مُحَمَّدًا
عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ إِلَى
يَوْمِ الدِّينِ، اَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ
وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ. وَقَدْ قَالَ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا
اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ
مُّسْلِمُوْنَ
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Mengawali khutbah ini, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita
kepada Allah swt dengan sebenar-benarnya takwa, dengan menjalankan segala
perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Firman Allah Swt QS ‘Ali Imran 102:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ
تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan
muslim.”
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Di Era Digital dan Transformasi ini kita dihadapkan dengan berbagai
macam tantangan, seperti satu kesalahan kecil bisa menyebar lebih cepat
daripada niat seseorang untuk memperbaikinya. Satu potongan video, satu kalimat
yang diambil tanpa konteks, bisa menghancurkan nama baik seseorang yang
sebelumnya dikenal berakhlak baik. Bahkan mungkin bukan sekedar nama baik, tapi
bisa melemahkan mentalnya hingga membuatnya tak pernah mau untuk berubah lebih
baik. Kita sering mudah menekan tombol share, tapi jarang menekan tombol
tahan dulu, pikir dulu. Padahal dalam Islam, menjaga kehormatan sesama muslim
adalah ibadah yang besar. Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللّٰهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
“Barang siapa menutupi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi
(aib)nya di dunia dan di akhirat.” (HR. Muslim no. 2699).
Menutupi bukan berarti membenarkan dosa, tapi bentuk kasih sayang
agar seorang hamba masih punya ruang untuk bertobat. Para ulama menyebut hal
ini sebagai الإِقَالَةُ عَنِ العَثَرَاتِ
(iqālatul ‘atsarāt) yaitu
memaafkan dan menutupi kesalahan orang yang tergelincir, selama tidak berkaitan
dengan pelanggaran hukum Allah.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Para ulama menjelaskan bahwa manusia terbagi menjadi dua golongan
dalam hal ini:
1. Orang yang terjaga kehormatannya dan tidak dikenal dengan dosa
atau maksiat. Jika ia tergelincir dalam kesalahan, maka tidak boleh aibnya
disebarkan. Ia lebih butuh nasihat, bukan penghakiman. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَقِيلُوا ذَوِي الْهَيْئَاتِ عَثَرَاتِهِمْ إِلَّا الْحُدُودَ
“Maafkanlah kesalahan orang-orang yang berakhlak baik di antara
kalian, kecuali dalam perkara hukum Allah.” (HR. Abu Dawud
no. 4375, an-Nasa’i no. 4887).
2. Orang yang terang-terangan berbuat dosa dan bangga dengan
maksiatnya. Untuk mereka, masyarakat tidak boleh menormalisasi perbuatannya.
Namun tetap dengan adab, bukan dengan cercaan, hujatan, atau perundungan.
Sayangnya, di zaman ini, banyak orang lebih sibuk mencari kesalahan
orang lain, sementara lupa bahwa dirinya pun memiliki dosa yang Allah masih
tutupi.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Menutupi aib bukan kelemahan, tapi tanda keimanan dan kasih sayang.
Ibnu Hajar al-Asqalani -rahimahullah- menjelaskan dalam Fath al-Bari,
bahwa makna “menutupi” dalam hadis di atas mencakup dua hal:
Pertama Menjaga kehormatan orang yang berbuat salah agar tidak
rusak di mata manusia. Kedua Tidak menyebarkan kesalahannya agar ia punya kesempatan
memperbaiki diri. Rasulullah ﷺ juga bersabda:
لَا يَسْتُرُ عَبْدٌ عَبْدًا فِي الدُّنْيَا إِلَّا سَتَرَهُ اللّٰهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Seorang hamba tidak menutupi (aib) saudaranya di dunia, kecuali
Allah akan menutupi aibnya di Hari Kiamat.”(HR. Ahmad no.
19891, dinilai sahih oleh Al-Albani).
Setiap kali kita menahan diri dari menjelekkan orang lain,
sebenarnya kita sedang menyiapkan perlindungan Allah untuk diri kita sendiri.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Saat ini kita hidup di era digital. Melalui internet dan media
sosial, semua orang dapat dengan mudah mengetahui berbagai informasi, kehidupan
pribadi orang lain, bahkan sampai ke hal-hal yang seharusnya tidak perlu
diketahui publik.
Karena hal tersebut, tidak sedikit dari kita yang merasa senang
ketika menemukan kesalahan atau aib orang lain, lalu dengan cepat
menyebarkannya ke berbagai platform, sehingga membicarakannya di kehidupan
nyata.
Padahal, Islam dengan tegas melarang umatnya untuk mencari-cari
kesalahan orang lain. Setiap individu yang merasa dirinya muslim, wajib menjaga
kehormatan orang lain dan tidak mencampuri urusan pribadi yang bukan tanggung
jawabnya, apalagi sampai ke ranah privasi. Sebagaimana larangan ini ditegaskan
oleh Allah swt dalam firman-Nya, QS al-Hujurat ayat 12:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا
مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ
بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ
مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka!
Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan
orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang
lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah
mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah
Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.
Menegur Tanpa Menghina, Menegur itu perlu, tapi cara yang
salah bisa mengubah nasihat menjadi penghinaan. Ulama salaf berkata:
مَنْ نَصَحَ أَخَاهُ سِرًّا فَقَدْ نَصَحَهُ وَزَيَّنَهُ، وَمَنْ
نَصَحَهُ عَلَانِيَةً فَقَدْ فَضَحَهُ وَشَانَهُ
“Barang siapa menasihati saudaranya secara diam-diam, maka ia
benar-benar telah menasihatinya dan memperbaikinya. Namun siapa yang menasihati
di depan umum, maka ia telah mempermalukannya dan mencelanya.”
Begitulah adab dalam memberi nasihat, Islam tidak melarang amar
ma’ruf nahi munkar, tapi melarang penghinaan dan celaan. Allah Ta‘ala
berfirman:
وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ
“Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku
adil. Berlaku adillah, karena itu lebih dekat kepada takwa.” (QS.
Al-Mā’idah: 8).
Adil artinya tidak menutup mata terhadap kesalahan, tapi juga tidak
menutup hati terhadap kebaikan. Seseorang bisa salah di satu sisi, tapi tetap
punya amal saleh di sisi lain. Ibnu al-Musayyib rahimahullah berkata:
لَيْسَ مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ إِلَّا وَلَهُ خَطَأٌ، وَلَكِنْ مَنْ
كَانَتْ حَسَنَاتُهُ أَكْثَرَ مِنْ سَيِّئَاتِهِ فَهُوَ الْمَغْفُورُ لَهُ
“Tidak ada manusia yang sempurna. Namun siapa yang kebaikannya
lebih banyak daripada keburukannya, maka keburukannya diampuni karena
kebaikannya.”
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah.
Menjadi Penutup, Bukan Penyebar, Menjadi penutup
aib orang lain adalah bentuk ibadah yang penuh kasih, empati, dan kesadaran
diri, bahwa kita pun butuh ampunan yang sama.
Sebelum jari ini tergesa menulis komentar tajam atau menyebarkan
potongan video seseorang, tanyakanlah pada diri sendiri: “Kalau aku yang
salah, apakah aku ingin diperlakukan seperti ini?” Jika jawabannya tidak,
maka berhentilah jadi penyebar. Jadilah penutup.
Karena bisa jadi, ketika kita menutupi aib saudara kita, Allah
sedang menutupi aib kita di hadapan seluruh makhluk-Nya. Menutupi aib adalah
tanda iman, sedangkan menelanjangi kesalahan orang lain adalah tanda hati yang
belum bersih. Islam tidak hanya mengajarkan kebenaran, tapi juga etika dalam
menyampaikan kebenaran, agar perbaikan benar-benar mendatangkan maslahat yang
lebih besar, dan nasihat tidak berubah menjadi penghinaan.
Kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah
Mulai saat ini, kita harus belajar menjaga privasi dan menahan
diri dari mencari aib orang lain. Perlu diingat, bahwa Allah secara tegas
melarang kita untuk mencari-cari kesalahan dan aib orang lain, sebagaimana
disebutkan dalam surat Al-Hujurat ayat 12. Begitu pula Rasulullah saw
memperingatkan agar umatnya tidak mengintai dan membuka aib sesama Muslim,
karena siapa yang melakukan hal itu, Allah akan membuka aibnya bahkan di
rumahnya sendiri.
Terakhir, di era digital yang serba terbuka ini, ujian menjaga
lisan dan jari akan menjadi semakin berat. Oleh sebab itu, marilah kita
berhati-hati dalam menggunakan internet, media sosial, tidak mudah menyebarkan
keburukan, dan selalu menutup aib sesama sebagaimana kita ingin aib kita
ditutup oleh Allah swt, baik di dunia, maupun akhirat. Kita
juga mendoakan saudara/i kita di Palestina dan beberapa Negara muslim lain
segera diberikan kedamaian, ketenangan dan kesejahteraan atas genosida dan
kejahatan zionis yahudi yang terlaknat, dan kita juga mengecam mereka yang
menyudutkan pesantren, kyai/ulama dan berbagai institusi Pendidikan Islam
dengan fitnah dan kebohongan. Semoga bangsa, Negara dan Negeri kita senantiasa
di Jaga Allah SWT dengan Kedamaian, kesejahteraan dan persatuan. Amin Ya Rabb.
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ
الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ
الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ
وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ